HokLoPan Arang Pangkalpinang: No where Else!

Hok Lo Pan, merupakan istilah yang digunakan untuk martabak manis yang berasal dari Bangka Belitung. Dikutip dari rri.co.id, Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian, menyebutkan, martabak manis atau yang aslinya bernama Hok Lo Pan awalnya adalah Makanan Khas Bangka Belitung (Babel).
“Hok Lo Pan atau Martabak diciptakan oleh orang-orang Hakka (Khek ) dan orang-orang Hokkian (Hoklo) yang didatangkan Belanda ke Bangka pada sekitar abad ke-18. Maka dari itu kebanyakan orang mengenal sebutan Martabak Bangka. Nama aslinya di Bangka adalah Hok Lo Pan (Martabak ). Arti Harfiah Hok Lo Pan (Martabak) adalah Kue Orang Hok Lo,” kata Akhmad Elvian.
Sebut saja Nining, salah satu pecinta HokLoPan asal Pangkalpinang-Babel. Pecinta kuliner ini menikmati Hoklopan sejak dekade 1980an hingga sekarang.
“Saya dari dulu sudah suka hoklopan, karena dari keluarga juga jajanan kita sering membeli kuliner ini,” ujar Nining yang memiliki beberapa spot martabak manis favorit di Sungailiar di tahun 1990an. “Nama pedagang martabaknya saya lupa karena sudah lama, dan kadang kalau kita mampir ke spot yang sama, itu sudah tidak jualan lagi atau pedagangnya bukan hoklopan lagi,” tambah Nining.
Bila di luar Babel, penyebutan hoklopan lebih populer dengan istilah martabak manis, apalagi biasanya di tiap daerah terdapat sebutan khas masing-masing daerah dan tipikal martabak yang sedikit banyak berubah. “Makanya misal di Jakarta kita temukan martabak manis ‘Bangka’ untuk menitikberatkan bahwa tipikal martabak manisnya serupa dengan hoklopan asal Babel. Karena seiring waktu banyak pula martabak manis daerah lain yang diperdagangkan di Jakarta, seperti martabak terang bulang, subang, dll,” tambah perempuan yang berprofesi sebagai pelaku usaha UMKM kuliner ini.
Bagi penikmat cita rasa martabak manis HokLoPan khas arang, ada kesan yang berbeda ketika memakan martabak manis arang dan non-arang.
Ditilik dari cita rasa hoklopan, Nining merasakan betul perbedaan cita rasa martabak dengan arang dibandingkan kompor gas.
Dimana, dalam proses memasaknya, martabak manis dulu masih menggunakan arang, yang sejalan dengan waktu, proses memasak martabak dengan arang perlahan diganti dengan kompor. Alasan pembuat sekaligus pedagang HokLoPan seringkali terkait dengan efisiensi biaya dan arang yang sudah jarang ditemukan.
“Entah gimana ya nyebutnya, pokoknya kalau martabak hoklopan yang dibuat langsung di Bangka memiliki cita rasa yang berbeda dengan martabak hoklopan Bangka di daerah lain. Mungkin memang cara pembuatan serta kandungan adonannya yang berbeda, tapi pasti yang di Bangka itu lebih legit, lebih ‘lemak’ kita nyebutnya gitu,” sebutnya.
Belum lagi jika pembuatannya memakai arang. “Kalau di lidah saya, yang proses memasaknya masih tradisional dengan arang, itu akan lebih renyah, lebih empuk. Bila sudah dingin pun martabak cenderung tetap lembut. Bila yang suka dengan martabak manis bertekstur lembut, mungkin cocok dengan hoklopan arang. Dan apalagi selera orang beda-beda, ini bagi saya yang terbiasa memakan hoklopan dari kecil itu bertekstur lembut, jadi saya lebih suka mencari yang dibuat serupa,” tegasnya.
Terlebih saat ini hoklopan arang terbilang sudah jarang ditemukan. Hanya beberapa titik yang Nining temukan masih membuat dan menjual hoklopan memakai arang. Dan biasanya pedagang ini adalah pedagang lama dan sudah berpuluh tahun berkecimpung sebagai pedagang hoklopan arang,” kata Nining seraya menunjuk beberapa titik yang sempat ia temukan masih memakai arang.red